MULYAJAYA MediLab
Login
Shopping Cart
shopping cart
News
5 April 2021
Disorot Kemenkes, Ini 3 Hal yang Perlu Kamu Tahu Soal Masker Palsu
Masker Palsu - Achmad Reyhan Dwianto detail

22 Februari 2021
Dokter Terawan Prakarsai Pengembangan Vaksin COVID-19 Berbasis Sel Dendritik
Mantan Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto jadi salah satu pemrakarsa pengembangan vaksin COVID-19 berbasis sel dendritik, yang diklaim jadi yang pertama di dunia. Vaksin itu kini sudah masuk uji klinis tahap II. detail

» index berita
Others
Others

Disorot Kemenkes, Ini 3 Hal yang Perlu Kamu Tahu Soal Masker Palsu


5 April 2021

Kemenkes minta masyarakat waspada masker palsu (Sumber: pixabay.com/leo2014)

Kementerian Kesehatan RI mengungkap adanya peredaran masker palsu di masyarakat. Hal ini menimbulkan kekhawatiran, karena penggunaan masker palsu dapat meningkatkan risiko penularan Covid-19

Masker palsu di sini adalah masker non medis yang diklaim sebagai masker medis, namun spesifikasinya berbeda.

"Yang disebut sebagai tidak sesuai dengan peruntukannya adalah misalnya masker itu sebenarnya bukan masker alat kesehatan tetapi diklaim sebagai masker alat kesehatan," kata Plt Dirjen Farmalkes, drg Arianti Anaya, MKM, dalam konferensi pers, Minggu (4/4/2021).

Masker medis itu yang seperti apa sih?

Menurut drg Arianti, ada beberapa jenis masker medis, yang di antaranya adalah masker bedah dan masker respirator.

Masker bedah biasanya menggunakan bahan non-woven spunbond, meltblown, spunbond (SMS), dan spunbond, meltblown, meltblown, spunbond (SMMS). Masker ini memiliki tiga lapisan dan hanya digunakan sekali pakai.

Sementara masker respirator umumnya memiliki lapisan yang lebih tebal, seperti terbuat dari polypropylene, dan lapisan tengahnya berupa elekret atau charge polypropylene. Contoh masker respirator adalah masker N95 dan KN95.

Apa dampaknya jika menggunakan masker palsu?

drg Arianti menjelaskan bahwa masker palsu yang beredar di pasaran belum memenuhi persyaratan mutu keamanan dan manfaatnya. Disebutkan, ada beberapa jenis pengujian yang dilakukan pada masker medis, yakni uji bacterial filtration efficiency (BFE), partie filtration efficiency (PFE), dan breathing resistance.

Lebih lanjut, kata drg Arianti, pengujian ini untuk membuktikan masker medis dapat mencegah penularan virus dan bakteri.

"Masker medis harus mempunyai efisiensi penyaringan bakteri minimal 95%," tutur drg Arianti, Dikutip dari laman Sehat Negeriku, Kemenkes.

Bagaimana cara membedakan masker palsu dan asli?

Meski sulit dibedakan secara fisik, drg Arianti mengatakan keaslian masker medis bisa dicek lewat izin edarnya.

"Masker non medis tidak memiliki izin edar dari Kemenkes karena tidak memenuhi standar uji sebagai alat kesehatan. Oleh karena itu untuk menghindari kesalahan pemilihan masker medis, maka masyarakat agar membeli masker medis yang sudah memiliki izin edar," jelasnya.

Izin edar ini tercantum pada kemasan dan dapat dicek melalui infoalkes.kemkes.go.id. Oleh karena itu, Kemenkes mengimbau agar masyarakat lebih cermat dalam memilih masker medis, sehingga tidak terjebak dengan masker palsu.

cara lain untuk mengenali masker palsu dan asli :

1. Tes visual

Ketika mengklaim bahwa masker tersebut adalah masker 3 lapis, secara logika masker itu memang harus punya 3 lapisan.

Buka atau robek salah satu masker dan seharusnya Anda melihat 3 lapisan yang jelas. Masker 3 lapisan biasanya terdiri dari kepingan Translucent (atas), lapisan putih (tengah), dan kepingan berwarna (Hijau, Biru, atau bahkan Putih).

2. Uji air

Mengutip Medium, Masker bedah, tidak hanya melindungi orang lain dari batuk dan bersin Anda, tetapi juga memberikan perlindungan terhadap orang lain. Karena itu, lapisan luarnya didesain tahan air.

Lipat masker sehingga bagian luarnya membentuk corong. Kemudian tuangkan air ke dalamnya. Jika masker tersebut asli maka, masker akan menahan air.

3. Uji bakar

Sekalipun ada 3 lapis masker, pastikan lapisan tengahnya adalah masker, bukan kertas. Oleh karena itu, jika Anda membakarnya dengan api, itu filter itu seharusnya tidak terbakar.



Baca juga
  » 22 Februari 2021
Dokter Terawan Prakarsai Pengembangan Vaksin COVID-19 Berbasis Sel Dendritik
Mantan Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto jadi salah satu pemrakarsa pengembangan vaksin COVID-19 berbasis sel dendritik, yang diklaim jadi yang pertama di dunia. Vaksin itu kini sudah masuk uji klinis tahap II.

Information
Search
Search:
Others
Others